14 Februari 2015

Katalog Buku Pedoman yang digunakan di Seksi P2P


Pada awalnya saya merasa sedih bercampur heran dengan ketidak-keberadaan beberapa buku pedoman-pedoman baik di tingkat puskesmas maupun dinkes padahal bekerja sudah bertahun-tahun tapi buku pedoman tidak punya, mungkin karena belum terinventarisasi dengan baik (tugas fungsional pustakawan kah ya?) sehingga bila terjadi pergantian petugas/pengelola program penyakit tertentu buku-buku tersebut juga akan ikut lenyap. Disamping dibutuhkan oleh pengelola program sebagai pedoman teknis baik di puskesmas maupun dinkes, buku pedoman tersebut juga dibutuhkan dalam penilaian akreditasi puskesmas.

Diantara buku yang belum ada "penampakannya" adalah Buku Pedoman mengenai (P2B2) Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang yang seringkali langka ditemukan di Puskesmas maupun di Dinas. Hal ini dimungkinkan disebabkan oleh keterbatasan pengadaan buku di tingkat kabupaten maupun provinsi juga ketertinggalan informasi karena kurangnya akses langsung ke pusat. Belum adanya kasus penyakit bersumber binatang-zoonosis seperti: leptospirosis, antraks, pes sehingga keberadaan buku pedoman juga terabaikan.

Oleh karena itu saya mencoba membuat katalog buku pedoman yang digunakan di Seksi P2P Bidang P2P (Pencegahan & Pengendalian Penyakit) dengan pengelompokkan sebagai berikut :

1. Pengendalian Penyakit (P2):
    a. Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2)
        1) Pengendalian Vektor
        2) Arbovirosis
        3) Malaria
        4) Kecacingan
        5) Filariasis
        6) Leptospirosis
        7) Zoonosis

    b. Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML)
        1) ISPA/Pneumonia
        2) Diare
        3) Tuberkulosis
        4) Kusta
        5) Frambusia
        6) HIV & AIDS

   c. Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TM)

2. Surveilans Epidemiologi
3. Imunisasi
4. Kesehatan Matra

Buku-buku pedoman tersebut dalam bentuk hardcopy dan atau softcopy yang diterbitkan atau diunggah oleh lembaga dan situs resmi kementerian kesehatan.

Buku tersebut dapat dicopy di Seksi P2P dan yang tersedia softcopy dapat diunduh di blog ini.

Semoga bermanfaat.
Unduh Katalog Buku Pedoman P2P

Stratifikasi Endemisitas DBD Berdasarkan Wilayah Kerja Puskesmas di Kabupaten Sumedang 2015



Penentuan Stratifikasi sebagai berikut:
  1. Endemis adalah wilayah kerja puskesmas yang dalam 3 tahun terakhir ditemukan kasus pada setiap tahunnya.
  2. Sporadis adalah wilayah kerja puskesmas  yang dalam 3 tahun terakhir ditemukan kasus tetapi tidak setiap tahun.
  3. Potensial adalah wilayah kerja puskesmas  yang dalam 3 tahun terakhir tidak pernah ada kasus, tetapi persentase rumah yang ditemukan jentik > 5%.
  4. Bebas adalah wilayah kerja puskesmas  yang dalam 3 tahun terakhir tidak pernah ditemukan kasus dan persentase rumah yang ditemukan jentik < 5%.

Definisi Kasus DBD adalah kasus DBD yang tercatat dalam Rekapan Laporan Tahunan DBD 2012-2014.

Definisi Operasional Suspek Infeksi Dengue, DD, DBD, DSS dan EDS

Definisi operasional kasus mengenai Suspek Infeksi Dengue, Demam Dengue/DD, DBD, DSS & EDS sebagai berikut :

1. Suspek Infeksi Dengue ditegakkan bila terdapat 2 kriteria yaitu:
    a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas berlangsung selama 2-7 hari, dan
    b. Adanya manifestasi perdarahan : sekurang-kurangnya uji tourniquet (Rumple Leede) positif.
2. Demam Dengue ialah demam disertai 2 atau lebih gejala penyerta seperti sakit kepala, nyeri di belakang bola mata, pegal, nyeri sendi (athralgia), ruam (rash). Adanya manifestasi perdarahan, leucopenia (lekosit < 5000/mm3) jumlah trombosit < 150.000/mm3 dan peningkatan hematokrit 5-10%.
3. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah demam 2-7 hari disertai dengan manifestasi perdarahan, jumlah trombosit < 100.000/mm3, adanya tanda-tanda kebocoran plasma (peningkatan hematokrit > 20% dari nilai normal, dan atau efusi pleura, dan atau ascites, dan atau hypoproteinemia/hipoalbuminemia).
4. Sindrom Renjatan Dengue (SRD/DSS) adalah kasus DBD yang masuk dalam derajat III dan IV dimana terjadi kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi yang cepat dan lemah, menyempitnya tekanan nadi (< 20 mmHg) atau hipotensi yang ditandai dengan kulit dingin dan lembab serta pasien menjadi gelisah sampai terjadi syok/renjatan berat (tidak terabanya denyut nadi maupun tekanan darah).
5. Expanded Dengue Syndrom (EDS) adalah demam dengue yang disertai manifestasi klinis yang tidak biasa (unusual manifestation) yang ditandai dengan kegagalan organ berat seperti hati, ginjal, otak dan jantung.

Perbedaan utama antara DD dan DBD adalah :
  1. DD sebagian besar adalah infeksi primer sedangkan DBD adalah infeksi sekunder oleh virus dengue dari serotipe yang berbeda.
  2. DD tidak terjadi kebocoran plasma dan tidak pernah disertai syok.
  3. Prognosis DD lebih baik dari DBD. (Untuk kepentingan epidemiologi : perhitungan Case Fatality Rate (CFR) diperlukan jumlah kasus DBD (tidak termasuk DD).
Gejala/tanda utama DBD sebagai berikut :
  1. Demam,
  2. Tanda-Tanda perdarahan,
  3. Hepatomegali
  4. Syok
Untuk Penegakkan Diagnosis dan Tatalaksana DD dan DBD secara lengkap dapat dilihat pada Buku Pedoman Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI, 2013.(hardcopy).