15 Desember 2008

Indonesia desak WHO dalam Membasmi H5N1

Pertemuan antarnegara yang diselenggarakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai Kesiapsiagaan Pandemi Influenza (IGM-PIP) membahas terbentuknya mekanisme internasional baru, yakni Jaringan Influenza WHO. Mekanisme baru yang menggantikan Jaringan Surveilans Influenza Global itu untuk menerapkan sistem berbagi contoh virus dan manfaat dari virus influenza H5N1.

Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di sela-sela sidang WHO itu, dalam siaran pers yang dipublikasikan Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan, Jumat (12/12) di Jakarta, pada pertemuan IGM-PIP tahun lalu, negara-negara anggota sepakat mengambil langkah mendesak untuk membangun mekanisme baru berbagi contoh virus dan manfaat yang bersifat internasional. Mekanisme berbagi contoh virus influenza yang adil harus menerapkan perjanjian transfer materi standar (SMTA).

Mekanisme itu diharapkan segera diintegrasikan dalam perjanjian transfer materi standar sebagai dokumen yang menjadi standar universal dan global, serta berlaku untuk semua perpindahan atau transfer materi biologis kesiapan pandemi influenza. Saat ini sudah ada persetujuan secara umum bahwa perjanjian transfer materi standar akan jadi perjanjian yang sifatnya mengikat secara umum di antara pihak-pihak dalam perjanjian.

"Kehadiran kami (delegasi Indonesia) di sini memperlihatkan niat dan upaya kami yang sungguh-sungguh dalam mengatasi ancaman pandemi yang dimunculkan oleh influenza burung atau flu burung, dan untuk menjadikan dunia tempat hidup yang lebih baik," ujar Menteri Fadilah. Ia mengakui, peningkatan pengetahuan dan pemahaman telah membantu membentuk kerangka mekanisme virus sharing.

Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness (IGM - PIP) adalah sebuah proses pertemuan negara anggota yang diorganisasi Sekretariat WHO untuk memfinalisasi negosiasi mengenai berbagi virus influenza H5N1 dan berbagi manfaat yang timbul dari penggunaan virus dan bagian-bagiannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menyepakati mekanisme baru penanganan flu burung yang disebut Jaringan Mekanisme Influenza WHO. Jaringan itu untuk menggantikan Jaringan Surveillans Influenza Global yang berfungsi menerapkan sistem virus sharing dan benefit sharing dari virus influenza H5N1.
Kesepakatan itu akhirnya tercapai dalam sidang antarpemerintah WHO yang berlangsung di Jenewa, Swiss, 7-13 Desember 2008, yang dihadiri pula Menkes Siti Fadilah Supari. Dalam sidang tersebut, Menkes Siti Fadilah Supari memang mendesak dibuatnya mekanisme baru penanganan flu burung tersebut.
"Kami (negara-negara anggota) sepakat mengambil langkah mendesak untuk membangun mekansime baru untuk virus sharing dan benefit sharing yang bersifat internasional. Influenza virus sharing yang adil harus menerapkan perjanjian transfer materi standar (SMTA). Hari ini saya mendesak agar sistem benefit sharing diintegrasikan ke dalam SMTA," kata Siti Fadilah seperti dikutip dari siaran pers Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan di Jakarta, Minggu (14/12).
SMTA akan menjadi perjanjian yang sifatnya mengikat secara hukum di antara pihak-pihak dalam perjanjian tersebut. "SMTA akan menjadi dokumen yang menjadi standar universal dan global dan serta berlaku untuk semua pemindahan atau transfer materi biologis kesiapan pandemik influenza," tutur Menkes soal sikap Indonesia.Menkes Fadilah Supari mengakui bahwa peningkatan pengetahuan dan pemahaman telah membantu membentuk kerangka mekanisme virus sharing. (www.kompas.com)

12 November 2008

Tubuh Sehat Ibadah Haji Lancar

Seseorang yang menunaikan ibadah haji berarti memperoleh karunia langsung dari Allah SWT, untuk itu calon jemaah haji amat penting melakukan serangkaian persiapan fisk dan nonfisik. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan tahap ke II di Kabupaten Sumedang dari 979 jemaah calon haji yang diperiksa sebanyak 292 orang (29,82%) berumur diatas 60 tahun, dengan perbandingan jemaah calon haji laki-laki sebanyak 134 orang dan jemaah calon haji perempuan sebanyak 158 orang. Dari usia tersebut jemaah calon haji kebanyakan mengalami bebagai penyakit yang beresiko tinggi seperti penyakit kardiovaskuler/jantung, penyakit kronik, diabetes melitus/kencing manis, darah tinggi dan sebagainya.
Karenanya pemeriksaan seksama perlu dilakukan. Faktor yang paling utama adalah pengenalan terhadap penyakit yang mungkin terjadi dan usaha pencegahannya, terutama bagi para calon haji yang mengidap penyakit bawaan. Beberapa penyakit bisa dilakukan pencegahan, misalnya dengan pemberian vaksinasi. Penjagaan kondisi tubuh itu penting dilakukan karena ada perbedaan cuaca yang mencolok antara Indonesia dan Tanah Suci. Melihat dari pola musim di Arab Saudi untuk tahun ini jatuh pada musim dingin. Diperkirakan suhu diantara tiga kota seperti Jeddah suhunya natara 190 F, Mekkah 140 F dan Madina pada malam hari bisa sekitar 40 F.


Untuk itu, bagi jemaah calon haji yang memiliki penyakit kronis, terbukalah pada saat pemeriksaan oleh dokter di Tanah Air. Dengan anda terbuka maka dokter bisa melakukan langkah-langkah antisipasi. Selain itu, bawa dan teruskan oabt-obatan yang sedang dikonsumsi, selalu dekat dengan dokter kloter utamakan aktifitas wajib dan hindari keramaian.
Untuk mengantisipasi dan melakukan pencegahan terhadap beberapa penyakit kronis anda dapat melakukan beberapa tips berikut ini :

Makanlah makanan yang beraneka ragam. Jangan fanatik pada jenis makanan tertentu saja, karena bisa jadi tubuh akan kekurangan nutrisi yang diperlukan. Ingat ibadah haji memerlukan kondisi fisik yang prima.

  • Perbanyak makan sayur dan buah-buahan. Sayuran dan buah mengandung banyak zat-zat yang menukung vitalitas tubuh. Selain itu bisa menangkal konstipas (susah BAB)
  • Kurangi makanan yang tinggi lemak
  • Perbanyak makanan yang mengandung zat tepung seperti biskuit dan roti, dan batasi makanan manis yang mengandung gula murni


Bagi penderita Diabetes / Kencing manis :

  • Makanlah yang cukup, secara teratur dan beraneka ragam
  • Kalori makanan disesuaikan dengan beratnya penyakit
  • Hindari makanan berupa gula pasir/merah, sirup, jeli, buah-buahan yang diawetkan dengan gula, susu kental, es krim, kue manis, cake dan dendeng manis
  • Terus mengikuti diet masing-masing


Makanan bagi Penderita Jantung Koroner :

  • Makanlah makanan yang beraneka ragam dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan tubuh
  • Jangan makan makanan yang berlemak dan gurih
  • Hindari kue-kue yang terlalu manis, sayuran yang mengandung banyak serat (kangkung) dan banyak gas (kol), cabe dan bumbu lain yang merangsang
  • Jangan minum-minuman ang bersoda, kopi atau teh kental dan yang mengandung alkohol. Batasi makanan yang mengandung garam


Makanan bagi Penderita Tekanan Darah Tinggi :

  • Makanlah makanan yang beraneka ragam. Bila kegemukan kurangi makanan yang mengandung karbohidrat (nasi, jagung dll)
  • Gunakan minyak jagung, minyak wijen, minyak biji matahari untuk memasak makanan
  • Makanlah sayuran dan buah-buahan segar yang banyak menngandung vitamin (jeruk, apel, pir)
  • Batasi pemakaian garam

27 Oktober 2008

Concrete measures necessary in controlling dengue in South East Asia

South-East Asian countries must take concrete measures immediately in order to control the spread of dengue. The severity of the public health threat from dengue led to its inclusion in one of the resolutions adopted at the 61st Session of the Regional Committee Meeting of the World Health Organization’s South-East Asia Region in September 2008.

“We urge our Member States to take tangible steps towards implementing the Asia-Pacific Dengue Strategic plan, especially in the area of strengthening the system for prediction, early detection, cross-border surveillance, preparedness and early response to outbreaks of Dengue,” said Dr Samlee Plianbangchang, WHO Regional Director for South-East Asia.

“An effective approach must include community ownership, inter sectoral collaboration and coordination across relevant ministries for the effective implementation of prevention and control of this vector-borne disease.”

“WHO will provide the technical support to Member States in implementing this plan especially in the areas of assessing and monitoring the impact of climate change, in prioritizing operations research to support evidence-based policy decisions and effective preventive interventions. We will also facilitate research and development of a dengue vaccine for children,” Dr Plianbangchang said.

The Asia Pacific Dengue Strategic Plan (2008-2015) is meant to aid countries in reversing the rising trend of dengue by enhancing their preparedness; enable them to promptly detect, characterize and contain outbreaks; and limit the spread of dengue.

The situation across this Region is a concern to the World Health Organization. The transmission season for dengue in India, particularly Delhi, began in August, and is expected to peak in October and November. Indonesia has shown a gradual increase of reported cases since 2000 with the most number of cases reported in 2007 (over 150,000). It is likely that the figures for 2008 will edge close to last year’s as dengue is transmitted year-round in Indonesia, with a tendency to peak between December and February. The Maldives and Sri Lanka usually see an increase in the number of dengue cases between May and June and again from November to December.

Currently about 75% of the population in the Asia-Pacific region is at risk of Dengue. Dengue is a man-made problem which is linked to rapid unplanned and unregulated urban development, improper water storage and other conditions that provide breeding grounds for the mosquito. Movement of people to and from urban areas is another major factor.

The dengue virus spreads through the bite of the infectious female Aedes mosquito, primarily Aedes aegypti which breeds in artificial containers and improperly disposed of wastes where clean or clear water stagnates. Because dengue depends on such environmental factors, prevention is the key to effective control. Surveillance of vectors and the disease are both very critical because outbreaks of dengue are generally preceded by increased vector breeding in local areas.
Press Releases WHO (http://www.searo.who.int)